Puisi-puisi Tihang Willy menampilkan bahasa Sunda dengan lebih egaliter dan segar tanpa menjadikannya terasa genit. Upaya semacam itu hanya mungkin dilakukan minimal oleh dua karakter:
Pertama, anak muda dari tatar Sunda yang sudah berjumpa dengan beragam kultur pada era digital serta ingin menautkan hasilnya dengan kesundaan melalui olah puitika. Kedua, penyair yang jeli “membaca” kultur Sunda dengan gerak hilir mudik kini dan silam lantas memutuskan enggan ikut berdiam diri dalam hegemoni panjang Mataraman.
Maka, dalam puisi-puisi pada antologi, yang personal dan yang komunal, sebagaimana yang silam dan kini, berkelindan tanpa canggung. “Énjing” (besok) dan “ngarabring” (berombongan) sama-sama hadir sebagaimana “beling” dan “healing” bahkan dimungkinkan beriring menyusun rima. Diksi puisi-puisi Willy kerap kali menimbulkan kejut, bukan karena diksi itu asing, melainkan lebih karena posisi kreatifnya dalam tata larik puisi Sunda bukan sesuatu yang mudah terbayangkan.
Eksperimen semacam itu sangat mungkin memicu resepsi berbeda yang bertolak belakang, menolak ataupun memihak, dengan alasan masing-masing yang sukar dihakimi hitam putih. Resepsi-resepsi itu akan menarik untuk dijadikan bahan diskusi lebih lanjut, terutama karena ia membuka kemungkinan relasi lebih cair antara manusia dengan tarik ulur tradisi lokal dan global pada masa kini dan kelak.
Ilaharnya sebuah karya kreatif, nilai 23 puisi dalam Tihang pasti bervariasi tergantung siapa yang membacanya, tetapi eksperimen pemantik semacam itu, tampaknya, bisa dikatakan sebagai salah satu nilainya yang paling mungkin universal. (Cep Subhan KM)

Penulis: Willy Fahmy Agiska
Pengantar: Dian Hendrayana
Penutup: Arip Senjaya
Penerbit: Malire & Rumah Koclak
ISBN: 978 634 04 5094 1
Berat: 100 Gram
Dimensi P-L-T: 18 Cm / 12 Cm/ 0 Cm
Total Halaman: 70 Halaman
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: Rp 55.000,00-
