Bait yang Menggantung
untuk Chester Bennington
Aku dengar engkau naik ke langit dalam simpul tali,
seperti angin yang menolak tubuhnya sendiri.
Di dinding hotel, jam tak lagi berdetak—
hanya suaramu, parau,
melantun dalam rongga waktu yang putus.
Crawling in my skin, bisikmu,
dan kulitmu menjadi topeng yang tak bisa dilepas.
I’ve become so numb, dan dunia tak pernah bertanya kenapa
Dunia ini, Chester,
adalah selimut yang dijahit dari belati dan tepuk tangan.
Semua ingin menciummu, lalu mencabikmu
dengan gigi pujian yang runcing.
Aku tahu, langitmu penuh suara yang tak berhenti,
seperti burung besi yang bernyanyi dalam otak.
These wounds, they will not heal.
Kepalamu ladang perang,
dan senyum itu cuma topeng
yang jatuh setiap malam
sebelum mimpi menusuk tenggorokanmu.
Apakah tali itu lebih lembut dari cinta?
Apakah gelap lebih setia dari para sahabat?
Apakah maut datang seperti konser terakhir—
dengan lampu biru,
dan ribuan tangan memanggilmu kembali?
Ah, Chester,
bila Tuhan ada, ia tuli.
Bila dunia ini rumah, ia retak.
In the end, it doesn’t even matter,
dan itu bukan kutukan—itu nyanyian yang kau ulang
sampai tubuhmu menyerah pada gema.
Dan bila hidup adalah puisi,
maka engkaulah bait yang menggantung,
tak ingin selesai dibaca.
Penulis
Eka Wibiksana Niftahululum. Hanya orang biasa yang sesekali menulis puisi.






