Puisi Eka Wibiksana

freepik.com

Bait yang Menggantung

untuk Chester Bennington

 

Aku dengar engkau naik ke langit dalam simpul tali,

seperti angin yang menolak tubuhnya sendiri.

Di dinding hotel, jam tak lagi berdetak—

hanya suaramu, parau,

melantun dalam rongga waktu yang putus.

 

Crawling in my skin, bisikmu,

dan kulitmu menjadi topeng yang tak bisa dilepas.

I’ve become so numb, dan dunia tak pernah bertanya kenapa

Dunia ini, Chester,

adalah selimut yang dijahit dari belati dan tepuk tangan.

Semua ingin menciummu, lalu mencabikmu

dengan gigi pujian yang runcing.

 

Aku tahu, langitmu penuh suara yang tak berhenti,

seperti burung besi yang bernyanyi dalam otak.

These wounds, they will not heal.

Kepalamu ladang perang,

dan senyum itu cuma topeng

yang jatuh setiap malam

sebelum mimpi menusuk tenggorokanmu.

 

Apakah tali itu lebih lembut dari cinta?

Apakah gelap lebih setia dari para sahabat?

Apakah maut datang seperti konser terakhir—

dengan lampu biru,

dan ribuan tangan memanggilmu kembali?

 

Ah, Chester,

bila Tuhan ada, ia tuli.

Bila dunia ini rumah, ia retak.

In the end, it doesn’t even matter,

dan itu bukan kutukan—itu nyanyian yang kau ulang

sampai tubuhmu menyerah pada gema.

 

Dan bila hidup adalah puisi,

maka engkaulah bait yang menggantung,

tak ingin selesai dibaca.

 

Penulis

Eka Wibiksana Niftahululum. Hanya orang biasa yang sesekali menulis puisi.

Puisi Pio

Kutub Dua   Lama tak kuteguk ramuan itu, Pengantar tidur yang lebih ampuh dari cintaku,   Phobos mengangrek di kepala,

Read More

Atas Nama Cinta

Buku Kumpulan Cerpen Atas Nama Cinta ini memuat 20 cerpen dari 20 perempuan penulis. Penerbit bekerjasama dengan Komunitas Perempuan Penulis

Read More

Terbaru