Kolor Ayah

Ayah tak henti menggaruk isi kolor. Di mana saja.

Gara-gara tak mau ganti kolor. Kolor penuh bekas dor.

Warisan kakek, bikinan nenek setengah abad silam,

Sarang pelor tahun-tahun teror tahun-tahun sensor.

Kolor yang bikin tekor, kedodoran, dan pengkor.

Kolor keramat dan keparat. Ayah bangga. Lupa diri.

Garukannya kian membabi-buta. Lupa tonjol nyelonong

Ikut nongol saat mempertontonkan kolor. Di mana saja.

Setiap kali ada tamu ke rumah. Setiap kali berpidato

Di kantor-kantor, tempat hajatan, bahkan rumah ibadah.

Lebih nongol lagi setiap kali saweran di panggung-panggung

Dangdut.“Bagaimana, enak zaman kolor ini, kan?”

Bisiknya di pesta-pesta perayaan apa saja. Banyak

Yang terpikat kolor kotor itu.Banyak isi kolor kasmaran.

Isi kolor. Bangkit. Di mana saja. Tegak. Menghormat sabda

Sang kolor keramat. Para pemuja kolor turun ke jalan-jalan.

Sempoyongan. Mabuk kolor. Ayah girang. Kolor ayah berkibar

Di mana-mana. Dipuja.Berhala. Padahal kotoran di kolor itu

Tak bisa ibu bilas sekalipun dengan air mata. Bahkan darah.

Digosok makin bolong-bolong membuat si tonjol makin getol

Nongol di koran-koran, televisi, media sosial. Tak tahu malu.

Muntah. Di mana saja. Anyir.“Wahai, kolor! Maha borok engkau

Dengan segala isinya! Maha bobrok! Berkati kami tetap lurus

Di jalanmu!” Koor sambutan di mana-mana.. Kenapa tidak kita

Buang saja atau kita bakar?  Bisik kami sambil mencuri martil

Dari gudang kesedihan ibu. Ibu yang setia mengoleskan salep siang

Salep malam itu menarik napas panjang. Sepanjang sejarah kolor.

Lantas kami sadar kolor itu sudah lengket. Bisa saja kita buang

Atau kita bakar, tapi mesti sekalian dengan isinya. Selalu begitu

Jawaban ibu. Tanpa sepengetahuannya kami gigih memartil kolor

Sekaligus isinya yang tak henti nongol nyelonong ke mana-mana.

Kami ingin mengubur kolor beserta isinya, mengubur penyakit

Warisan kakek. Penyakit yang menggerogoti hari-hari ibu.

Menggerogoti hari depan kami. Hari-hari milik kami. Hari-hari

Yang jadi anarki. Anarki dalam kolor ayah.

Fosil Genit

“Fosil genit!” bisik kami melihat iringan dansa belulang.

Orang-orang sakti itu memang keranjingan turun gunung

Seperti kerumunan anjing gila. Memaki dan menggigit

Apa saja. Memuji kaing diri sendiri sambil mengibarkan

Lidah keramat. Di jalan. Telanjang bulat. Mengacungkan

Cermin ajaib dengan tangan kiri sedang tangan kanan

Asyik mengelus tubuh sendiri. Onani. Di setiap perempatan.

Kata-kata saktinya mengucur mirip liur, lantas dijilat lagi

Dengan gerak lidah iklan es krim. Gerak indah si lidah

Terus memanjang. Bercabang. Memasuki gedung-gedung

Pemerintah, rumah-rumah pejabat, hingga dasi para politisi

Semua dibuat basah, mendesah, dan muntah harta karun

Memenuhi si lidah yang lekas bergulung seperti ombak

Tsunami menelan apa saja. Seperti ular. Pulang kenyang

Merayap ke gua pertapaan. Tidur  memeluk diri antik

Yang jadi cantik penuh manik-manik. Tidur di samping

Pundi-pundi. Mengacungkan cermin ajaib. “Cermin

Ajaib, cermin ajaib. Siapakah yang paling cantik dan centil?”

Wirid orang-orang sakti tak henti saling melilitkan lidah

Hingga membelit dinamit yang kami pasang hati-hati

Di ubun-ubun dan dubur mereka. Tentu, agar sumbu

tak tersentuh kucuran liur, kami sulut sepenuh kutuk.

Dan, ledakan yang lama kami nantikan, benar-benar

Sempurna bikin mereka bertebaran, benar-benar

Bertebaran seperti bedak dari kotak kosmetik puisi

Penulis

Toni Lesmana menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Buku terbarunya kumpulan puisi Peta dalam Rumah dan kumpulan cerpen berjudul Hantu Budayut terbit tahun 2020. Bergiat di Studio Titikdua dan Rumah Koclak. Tinggal di Ciamis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *