Percakapan
pada hari sabtu di pertengahan april itu
seorang lelaki dari sebuah kamar steril
menelepon video kekasihnya – lelah dan putus
asa – “kutinggalkan kau di bumi yang tak
layak, di bumi yang cemas”
di layar itu ia lihat kekasihnya – muda
dan sedih – tersenyum dengan mata bengkak,
“tentu saja kau akan pergi, maka pergilah,
dengan marah, dengan gagah”
mereka tak kecewa, mereka telah lama
mengerti bahwa harapan hanyalah kata
lain dari kesia-siaan
Seperti Ramaparasu
seperti ramaparasu, kubayangkan ia berjalan
mencari mati
kota-kota lengang, detik berdetak lambat,
dusun berderak semakin pelan, “apakah
waktu rusak?” ia bergumam, ia ingin berbaring,
sebenarnya, lalu maut yang sederhana
memeluknya, seperti kekasih yang kangen
tapi maut bergerak, ia tahu, dalam udara
seumpama angin
dan ia terkenang seorang saleh dari masa kecilnya
yang berkata, “di akhir zaman, sebelum dunia meletus
dalam kiamat kubro, angin lembut mengelus kening orang-
orang beriman, angin yang mematikan, lalu di muka bumi
tinggal berkeliaran orang-orang terkutuk, orang-orang
ahli neraka yang mendustakan agama”
***
ia yakin ia mendengar madah surga
dari rumah-rumah yang tertutup
di mana orang-orang sekarat terbaring
dan orang-orang cemas berdoa
ia ingin ikut bernyanyi
namun lidahnya tumpul belaka
***
maut memukul
tiang listrik
dan dentingnya
bergema di televisi dan koran dan internet
lalu orang-orang
putus asa meratap,
“angkat wabah ini, ya tuhan yang maha penghukum”
***
aku bayangkan ia, seperti ramaparasu, berteriak,
“beri aku mati ya tuhan
sebab maut telah mengendarai angin,
dan hanya orang-orang celaka yang bakal selamat,
selamat hanya untuk menyaksikan dunia
yang meletus”
***
dan ia akan terus berjalan, tanpa
masker, tanpa pernah mencuci tangan,
ketika orang-orang mengunci diri dalam rumah,
ketika peti-peti tak lagi cukup menampung
jasad orang mati
tapi maut
yang tak pernah keliru,
tak kunjung mengecup ubun-ubunnya
Penulis
Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Ia menerbitkan buku puisi dan prosa. Ia menerima sejumlah penghargaan, antara lain Anugerah Sutasoma, Penghargaan Sastra Badan Bahasa, serta Anugerah Sabda Budaya pada tahun 2019. Ia juga terpilih menjadi salah satu pemenang dalam beberapa sayembara, antara lain sayembara Aruh Sastra pada tahun 2023 untuk manuskrip puisi dan novel, serta sayembara Dewan Kesenian Jakarta untuk manuskrip puisi pada 2021 dan novel pada 2025. Kini, ia tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam Ruang Sastra Kalimantan Timur. Puisi-puisi ini adalah puisi-puisi yang ia tulis pada masa pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.

