Puisi Dadang Ari Murtono

Percakapan

pada hari sabtu di pertengahan april itu

seorang lelaki dari sebuah kamar steril

menelepon video kekasihnya – lelah dan putus

asa – “kutinggalkan kau di bumi yang tak

layak, di bumi yang cemas”

 

di layar itu ia lihat kekasihnya – muda

dan sedih – tersenyum dengan mata bengkak,

“tentu saja kau akan pergi, maka pergilah,

dengan marah, dengan gagah”

 

mereka tak kecewa, mereka telah lama

mengerti bahwa harapan hanyalah kata

lain dari kesia-siaan

Seperti Ramaparasu

seperti ramaparasu, kubayangkan ia berjalan

mencari mati

 

kota-kota lengang, detik berdetak lambat,

dusun berderak semakin pelan, “apakah

waktu rusak?” ia bergumam, ia ingin berbaring,

sebenarnya, lalu maut yang sederhana

memeluknya, seperti kekasih yang kangen

 

tapi maut bergerak, ia tahu, dalam udara

seumpama angin

dan ia terkenang seorang saleh dari masa kecilnya

yang berkata, “di akhir zaman, sebelum dunia meletus

dalam kiamat kubro, angin lembut mengelus kening orang-

orang beriman, angin yang mematikan, lalu di muka bumi

tinggal berkeliaran orang-orang terkutuk, orang-orang

ahli neraka yang mendustakan agama”

***

ia yakin ia mendengar madah surga

dari rumah-rumah yang tertutup

di mana orang-orang sekarat terbaring

dan orang-orang cemas berdoa

 

ia ingin ikut bernyanyi

namun lidahnya tumpul belaka

***

maut memukul

tiang listrik

dan dentingnya

bergema di televisi dan koran dan internet

 

lalu orang-orang

putus asa meratap,

“angkat wabah ini, ya tuhan yang maha penghukum”

***

aku bayangkan ia, seperti ramaparasu, berteriak,

“beri aku mati ya tuhan

sebab maut telah mengendarai angin,

dan hanya orang-orang celaka yang bakal selamat,

 

selamat hanya untuk menyaksikan dunia

yang meletus”

***

dan ia akan terus berjalan, tanpa

masker, tanpa pernah mencuci tangan,

ketika orang-orang mengunci diri dalam rumah,

ketika peti-peti tak lagi cukup menampung

jasad orang mati

 

tapi maut

yang tak pernah keliru,

tak kunjung mengecup ubun-ubunnya

 

Penulis

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Ia menerbitkan buku puisi dan prosa. Ia menerima sejumlah penghargaan, antara lain Anugerah Sutasoma, Penghargaan Sastra Badan Bahasa, serta Anugerah Sabda Budaya pada tahun 2019. Ia juga terpilih menjadi salah satu pemenang dalam beberapa sayembara, antara lain sayembara Aruh Sastra pada tahun 2023 untuk manuskrip puisi dan novel, serta sayembara Dewan Kesenian Jakarta untuk manuskrip puisi pada 2021 dan novel pada 2025. Kini, ia tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam Ruang Sastra Kalimantan Timur. Puisi-puisi ini adalah puisi-puisi yang ia tulis pada masa pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.

Facebook
Twitter
LinkedIn